Welcome To Hikari Senpai Studio!

I AM ALONE

Halo, mungkin kalian akan pikir aku adalah anak aneh dan kalian akan tidak peduli dengan keberadaanku jika aku adalah teman satu kelas kalian. Tapi aku tidak pernah bermaksud menyinggung kalian.

Namaku Alisa, sekarang usiaku sudah 16 tahun dan aku adalah seorang anak indigo. Mungkin sebutan ini serasa istimewa. Tapi itu tidaklah benar. Kami bukanlah anak istimewa, apalagi anak Tuhan. Kami sama seperti kalian, seseorang yang hidup di dunia lalu mati.

Semasa aku SMP aku adalah orang yang selalu sendiri. Kalian boleh bilang aku tidak mempunyai teman yang dekat. Satu-satunya temanku mungkin hanya musik dan buku ini. Yang kulakukan setiap hari hanyalah mendengar sebuah lagu yang sama setiap hari yang selalu terulang, dan menggambarkan seluruh isi hatiku pada sebuah buku. Sebenarnya akan lebih baik jika aku mempunyai seorang teman yang ingin mendengar isi hatiku. Hanya saja itu adalah hal yang sulit karena semua orang berpikiran aku adalah anak yang aneh.

Kalian boleh berpikir aku adalah orang yang selalu sendiri, tapi kalian salah jika berpikir akulah yang ingin menyendiri. Oleh karena itu ketika memasuki SMA aku ingin mencoba merubah hidupku. Tapi kenyataan yang kudapatkan tak ada satu hal pun yang dapat kurubah. Sekuat apapun aku berusaha teman-temanku tidak mengakui keberadaanku. Lagi-lagi aku terpojokkan, dengan sangat sedih aku kembali pada headset dan buku kesayanganku itu. Tapi sendiri itu menyedihkan, begitu inginnya aku mempunyai teman bicara sempat aku nekat.

Akan tetapi aku hanya menambah sebuah masalah, sejak awal mereka mungkin memang sudah tidak suka dengan keberadaanku. Akhirnya aku hanya berakhir diledek dan dipermainkan teman sekelasku. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin bisa dibilang takdir. Lagipulai, aku dan mereka mungkin memang tidaklah sama. Sempat terpikir oleh diriku, mungkin yang dapat mengerti diriku hanyalah anak sesama Indigo saja. Yang membuat perbedaanku dengan anak lain adalah aku dapat melakukan dan merasakan apa yang tidak bisa mereka rasakan. Tapi sesusah payah aku mencari aku memang tidak dapat menemukannya.

Mungkin aku terdengar gila di mata mereka, mulai dari sering berbicara sendiri, sering melihat hal yang belum terjadi, sering melihat sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, bertingkah tidak sewajarnya seperti anak seusia mereka. Mungkin mereka tidak nyaman dengan hal hal itu. Tapi aku percaya suatu saat ada yang bisa mengertiku.

Tapi ternyata segala hal menjadi lebih buruk lagi ketika teman sekelasku menganggap gambar-gambar di buku milikku itu adalah sebuah ramalan kejadian. Dan akhirnya mereka lebih tidak nyaman lagi pada diriku. Walau benar aku sering bermimpi akan sesuatu kejadian, aku tak pernah menyangka itu sebuah masa yang belum terjadi. Seluruh hal menjadi semakin berantakan, mulai dari situ aku mencoba berhenti menggambar hal yang kurasakan di dalam hati apalagi mimpi yang kualami itu.

Dan sehari hari aku hanya bisa mendengarkan sebuah lagu favoritku yang sudah terlalu sering kudengarkan. Dan mencoba bersabar dan diam dengan hinaan teman-temanku itu. Mungkin tidak semua teman sekelasku membenci dan tidak suka dengan keberadaanku. Tapi kebanyakan dari mereka juga tidak peduli dengan keberadaanku. “Entahlah, mungkin jika aku mati tak seorangpun akan pergi ke pemakamanku”, kata-kata itu terlintas dalam benakku.

Kedua orangtua ku bercerai di saat aku kelas 1 sd, ibuku sudah meninggalkan diriku dan menikah lagi. Ayahku hanya terus kerja dan bekerja tanpa ingin tahu perasaan anaknya. Dan aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Namanya adalah Ardi, ia adalah satu-satunya orang yang mengerti diriku. Tapi tak mungkin ia menjadi tempat curhatku. Sudah terlalu banyak masalah ia alami dalam hidupnya, apa yang kualami tak separah yang ia alami. Aku tak mau menambah masalahnya. Karena aku menyayanginya.

Aku tak pernah mengerti apa yang teman-temanku bicarakan. Mungkin selama ini aku hanya hidup dalam duniaku sendiri. Mendengar kata-kataku saja, Peduli akan isi hatiku saja. Tapi apa boleh buat, aku tidak memiliki kasih sayang yang cukup sehingga aku dapat mengasihi orang lain.

Aku memang seorang anak yang cerdas, multitalenta, dan mungkin terlihat sempurna. Tapi sejauh ini aku tidak pernah merasa hari-hariku bahagia apalagi sempurna. Walau aku sukses dalam prestasi, aku tidak pernah sukses dalam hal lain. Dan inilah hidupku yang harus kuterima, walau sakit tapi apa daya.

Akan tetapi, kukira hidupku akan terus begini. Sampai suatu hari aku bertemu dengan kakak kelas yang begitu peduli dan menghargai gambar-gambarku itu. Mulai dari situlah kami saling mengenal.

-I AM ALONE- THE END

Lanjut ke part 2: I AM STILL ALONE

Maafkan saya jika ada kekurangan, ini cerita juga sebenarnya setengah uneg uneg saya memandang khawatir dengan kelakuan anak-anak jaman sekarang yang sosialnya mulai luntur. Salam Hikari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s