Welcome To Hikari Senpai Studio!

You Know Indonesia? -Red Is Blood, White Is Bone- ,Chapter 1: Indonesian Youngman Wthout Glory!

Halo semua, namaku Daril. Seorang pelajar yang berusia 16 tahun. Kalian ingat Indonesia? Negeri yang penuh dengan berbagai budaya, negeri yang terkenal dengan beribu pulaunya, dan negeri paling luas se Asia Tenggara. Tapi tahukah kalian? itu sudah begitu lama hilang, Indonesia yang kalian kenal sudah lenyap sejak lama. Sejak era baru, sejak kedatangan para bangsa kulit merah dari Negara Rechtsinjech Serikat. Mereka begitu akrab dengan Indonesia sejak tahun 2015, mereka terus bekerja sama dan begitu banyak TKI di Rechtsinjech, dan banyak juga TKA di Indonesia. Indonesia dan Rechtsinjech sudah menjadi aliansi yang begitu kuat, namun siapa sangka ternyata ada akal bulus dibalik itu semua.

Tahun 2019, diadakan pemilihan umum dan yang terpilih adalah Abdul Khoriril Djumadie, menggantikan Presiden yang lama Hilman Hermawan. Namun warga Indonesia ternyata salah memilih, Abdul Khoriril ternyata masih kaki tangan dari para pejabat Rechtsinjech. Ia pun dengan sembunyi sembunyi menjual aset negara, membungkam mulut siapa saja yang ingin melaporkannya kepada KPK dengan uang, istilahnya dia juga main suap. Sampai ada salah satu pegawai sipil yang berpangkat rendah mengetahui ada penggelapan dana APBN. Waktu itu Indonesia benar-benar mengalami krisis, para warga mengamuk agar Abdul Khoriril turun jabatan. Karena pemetintahannya, ratusan pulau tak berpenghuni Indonesia dimiliki oleh orang orang kaya dari negara lain seperti Malaysia, dan paling banyak dimilki oleh orang orang Rechtsinjech.

Kalau dulu, bagi kita orang kulit putih dan kulit merah sulit ditemukan. Sejak aliansi Rechtsinjech dengan Indonesia, orang orang kulit merah semakin sering ditemui. Tidak sulit menemukan mereka. Dan ketika turun jabatan Abdul Khoriril, Indonesia pun krisis mulai di berbagai sektor. Nilai Dolar kembali melejit dari Rp. 5.000 menjadi Rp. 20.000. Hal yang sama ketika tahun 1998 pun terulang kembali. Dan Rechtsinjech pun mengambil kesempatan ini untuk melakukan agresi kepada Indonesia.

Setelah kurang lebih 1 tahun Indonesia mengalami krisis, presiden yang baru Anwarudin Hakim tidak kuasa menanggung masalah yang sudah berat ini. Rakyat sudah terlanjur tidak dapat mempercayai siapa-siapa. Tiap hari selalu saja terjadi unjuk rasa, poster dan spanduk yang menyatakan kekecewaan mereka dapat kalian lihat dimana-mana. Setengah tahun kemudian, Rechtsinjech makin memaksa Indonesia. Dan Indonesia pun perang dengan Rechtsinjech, namun Indonesia kalah akibat krisis yang belum membaik. Akibat dari hal itu, Indonesia yang terdiri dari pulau pulau besar seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Jawa, Dan Papua pun hanya tinggal menjadi Sumatera dan setengah pulau Jawa. Sisanya adalah milik Rechtsinjech.

Sejak saat itu, daerah yang direbut oleh Rechtsinjech pun menjadi sebuah negara baru bernama New Hindie. Dan Indonesia yang sekarang menjadi negara yang lemah. Wilayahnya hanya pulau Sumatera dan Setengah Jawa yang sampai Jawab Barat. Warga Indonesia yang tersisa di daerah Rechtsinjech pun mempunyai dua pilihan, “Pergi atau Menjadi Warga New Hindie”. Kebanyakan dari mereka mengungsi ke Jawa Barat dan Banten. Akan tetapi, tidak sedikit yang memilih untuk menetap karena tidak mempunyai cukup uang untuk pindah. Dan lalu apa kabar New Hindie? New Hindie pun menjadi tempat para kulit merah, Warga pribumi diusir dari tanahnya sendiri. Warga Indonesia yang memberontak dan melawan pasukan New Hindie pun hanya berakhisr sia-sia. Sungguh menyedihkan, kita kembali lagi dipermainkan oleh negara lain. Seperti saat Agresi Militer Belanda.

Tahun 2023-2034 Indonesia perang dengan Rechtsinjech dan kalah. Tahun 2035 New Hindie lahir, Kakek, Nenek dan Ayahku yang waktu itu masih remaja pindah dari Jawa Tengah ke daerah Bekasi, Jawa Barat. Dan Indonesia sudah menjadi negara yang hopeless. Dan tahukah kalian? nilai dolar pun sudah menjadi Rp. 36.700 Akibat Presiden Abdul Khoriril.

Itulah cerita yang kudengarkan dari Kakekku juga buku sejarah di sekolahku. Yang aku tahu, Kakekku begitu ingin pergi ke daerah asalnya lagi yaitu Purwokerto. Tapi tentu saja tidak bisa, itu adalah daerah New Hindie. Lagipula perang dingin masih terjadi antar dua negara ini. Kakek terlanjur muak melihat orang-orang kulit merah. Tapi aku ingin sekali menunjukkan paling tidak foto keadaan rumah tercintanya dulu.

Ya begitulah teman-teman, inilah Indonesia. Sekarang tahun 2062, Indonesia masih tetap saja menjadi negara yang tertinggal. Tapi berkat krisis waktu itu, kami sedikit sadar akan nasionalisme kami lagi. Ya kalian bisa katakan aku hanya anak biasa, yang hanya terlalu banyak merenung tapi tidak pernah bertindak. Lagipula aku bukanlah tipe orang yang optimis, yang bisa kulakukan hanyalah diam. Tapi aku tidak menyukai sikap yang menyalahkan pihak lain. Ya sampai saat ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Sudah dua bulan yang lalu hubungan Indonesia dan New Hindie semakin memanas lagi, jujur aku ingin pergi saja ke jaman dulu di jaman kakekku. Dimana walaupun Indonesia masih menjadi negara yang korup tapi masih ada yang bisa kubanggakan. Bagiku Indonesia yang sekarang Hopeless.

Itulah pikirku, sampai suatu ketika ada anak baru di sekolahku. Namanya Seila. Ia adalah seorang gadis yang benar-benar memiliki tatapan setan! Sikapnya itu yang benar-benar galak! pertama kali bertemu saja aku sudah berpikir kalau gadis itu adalah anak yang bermasalah! dan yang lebih parah ia adalah teman sebangku diriku! kukira hari kemudian adalah hari yang suram, akan tetapi aku tidak pernah menyangka justru kebalikannya.

4 bulan setelah ia pindah ke sekolahku, ia mengajakku pergi ke suatu tempat. Kukira ada apa, ternyata dia membawaku ke sebuah gudang bekas yang sudah rusak akibat perang. Yang kupikirkan waktu itu tidak sampai sejauh ini, aku kaget ternyata di dalam sebuah gudang bekas itu terdapat banyak senjata-senjata tajam dan berat. Aku pun bertanya padanya, “Apa-apaan ini!? Kalian mau tawuran!?” ia pun membalas kata-kataku dengan tegas, “Bukan! lebih besar dari itu!”, aku terheran sejenak dan bertanya, “Lalu apa yang akan kalian lakukan?”, Ia tersenyum dan menjawabnya dengan bangga, “Indonesia akan kusatukan kembali.” aku terkaget dan heran dengan kata-katanya, “Eh!!? maksudmu???!” ia menatap diriku dengan tegas dan aku melihat tidak ada keraguan di matanya, “Aku akan mengembalikan apa yang hilang dari negeri ini, jadi.. mau bergabung?”, dia benar-benar membuatku terdiam.

Dalam benakku, aku terlalu malas untuk urusan seperti itu. Tapi hati kecilku tertantang dengan tatapan matanya yang tidak ada keraguan itu. Aaah, sungguh aku dalam masalah besar. Aku pun seperti merasakan ada sesuatu yang mengajakku untuk bergabung dengan gadis itu. Apakah itu? rasa cintaku pada Indonesia? Hmm aku tidak tahu. Yang pasti kenyataannya aku juga menginginkan apa yang dulu milik Indonesia. Dan mengembalikan kampung halaman jutaan orang yang telah mereka rebut. Aku pun menjawab ajakannya itu dengan senyum dan hati yang beregemuruh, “Boleh asal jangan sampai membosankan ya!”, oke. aku mulai bertatap licik seperti dia.

Ia pun tertawa kecil dan berkata, “Kalau begitu,selamat datang di Indonesian Glory Forces”, Ia pun tersenyum, “Semuanya! sambut anggota baru kita! namanya adalah Daril!”. Tiba-tiba saja mereka berbaris dan membentuk formasi lalu berteriak, “Salam Kenal Daril!”, mereka berkata begitu sambil dalam posisi hormat. duh Aku serasa orang penting saja, “I,iya salam kenal semuanya.” . “Hei Daril, tahukah kamu? disini aku adalah ketuanya. Jangan pernah bergerak tanpa perintahku oke?”. Tu,tunggu dulu!! apa katanya? ketua? eeeeh!!? aku terkejut tidak kusangka anak ini memimpin pasukan yang di mataku sekarang ini jumlahnya bukan main-main!. ia pun membalikkan muka dan berkata padaku, “Dan satu hal lagi, aku berjuang murni untuk mengembalikan apa yang hilang dari negeri ini. Kau boleh bilang caraku radikal, tapi aku hanya ingin membuktikan kecintaanku pada negeri ini. Walau aku bukanlah orang pribumi.” aku pun terheran apa maksud kata-katanya dan bertanya, “maksudmu??”. Ia tertegun dan melanjutkan pembicaraan, “Aku Seila Alberta Jiemondecht, Ayahku berwarga negara New Hindie dan ibuku adalah orang campuran Indonesia dan New Hindie. Aku disini tinggal bersama nenekku yang orang pribumi.”

Jujur aku baru tahu kenyataan itu, entah kenapa di hatiku tiba-tiba tidak menerima dan justu malah sakit hati hanya karena dia keturunan New Hindie. Apakah orang Indonesia sudah memiliki luka yang terlalu dalam dengan New Hindie dan Rechtsinjech? aku pun mencoba membuat hatinya tenang, “ah itu tidak masalah, sejak awal kan itu semua salah Rechtsinjech.” ia pun membalas kata-kataku, “Orang Indonesia membenci kulit merah ya? tapi itu tidak masalah bagiku. Aku memang keturunan New Hindie dan Rechtsinjech tapi aku telah memilih negeriku sendiri yaitu Indonesia” A,apa? dia juga keturunan Rechtsinjech? okelah hatiku sempat merasa kesal tiba-tiba entah kenapa.

Lalu ia pun menatapku dan berkata, “Aku akan mengembalikan dan merebut apa yang telah mereka rebut dari Indonesia, karena inilah negeri yang membuatku merasa hidup dengan tawa.”, Maksudnya? apakah di New Hindie orang orang sudah anti sosial?, “Oh iya, tolong rahasiakan dari teman-teman ya.”, oke. hari ini aku melihat sesuatu yang lain dari anak ini. “Oke, tidak masalah.” Ia pun tersenyum dan berjalan meninggalkanku, “Oke Daril, mulai hari ini kau bawahanku. Mulailah bekerja sekuat tenagamu demi aku!”. A’apa!? seenaknya sekali anak ini. “Eeh!? Ba’baik!”

Ya inilah dimana hidupku mulai berubah tragis. Dari siswa biasa, menjadi seorang anggota pemberontak yang radikal! Tapi siapa peduli! aku memang dari dulu ingin merebut kembali apa yang mereka rebut! kalau bisa aku ingin mengembalikan kampung halaman kakekku menjadi milik Indonesia kembali!Tapi, ada satu hal yang menjanggalku. Seila, mungkin jika ia bisa merebut kembali milik Indonesia ia bisa jadi pahlawan disini, tapi bukankah ia akan disebut sebagai pengkhianat di sana?

Namun ada satu hal yang kuingat, aku mengejar dia dan bertanya, “Hei! apakah aku bisa masuk begitu saja!? tanpa tes? tanpa apapun? syaratnya tidak ada?” , ia pun mulai bertampang licik dan tertawa, “Syaratnya hanya kau harus berani mati saja.”. Oke, aku terdiam. dan rasanya aku ingin pulang saja, aku pun pulang ke rumah dan menyesali aku telah menjawab ‘iya’.

-Chapter 1 End-

2 responses

  1. I’ve been following your blog since you started. You have made amazing progress. This site is an inspiration for all pursuing a long transition versus the big chop.

    – Rob

    January 10, 2011 at 10:25 PM

  2. thank you :)

    January 14, 2011 at 6:20 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s