Welcome To Hikari Senpai Studio!

Tokoyo, Legenda Kepulauan Oki

Suatu hari di zaman kekuasaan seorang kaisar yang menguasai daerah Profinsi Hoki, Hojo Takatoki. Ada seorang samurai bernama Oribe Shima. Karena melakukan kesalahan kepada Kaisar Hojo Takatoki , ia pun dibuang dari kerajaan dan terpaksa tinggal di salah satu pulau di kepulauan Oki yang bernama Kamishima.

Oribe mempunyai seorang anak perempuan yang cantik, berusia delapan belas tahun, dan ia begitu menyayangi anaknya seperti halnya anaknya yang juga begitu menyayanginya. Nama anak Oribe Shima adalah Tokoyo. Pengasingan ayahnya sekaligus  perpisahan antara mereka berdua, dan benar benar membuat keduanya menderita.

Tokoyo, yang tertinggal di rumah tua ayahnya di Profinsi Shima, Ise, menangis dari pagi sampai malam dan kadang malam sampai pagi. Dan akhirnya, tak dapat bertahan dari perpisahan dengan ayahnya lebih lama lagi, ia pun memutuskan untuk nekat dan mencoba meraih ayahnya atau mati dalam usahanya. Ia begitu berani, seperti gadis kebanyakan di Provinsi Shima, yang mempertaruhkan hidupnya pada lautan. Sejak kecil ia begitu cinta akan menyelam dengan gadis lainnya dan menjalani hidupnya dengan kewajiban mengumpulkan awabi di dasar laut. Dan ia pun tidak mengenal ketakutan.

Setelah memutuskan untuk bergabung dengan ayahnya, Tokoyo pun menjual peralatan yang bisa dia atur dan bawa dalam perjalanan panjangnya menuju Provinsi Hoki. Setelah beberapa minggu ia pun sampai, di sebuah tempat bernama Akasaki, yang ketika cuaca begitu cerah Kepulauan Oki dapat terlihat. Segera ia bersiap dan mencoba membujuk nelayan nelayan untuk membawanya ke kepulauan Oki. Namun uangnya sedikit lagi akan habis, dan lagi tidak ada satupun yang dibolehkan untuk mendarat di Kepulauan Oki pada saat itu.

Para nelayan tersebut mentertawakan  Tokoyo dan mengatakan padanya bahwa ia baiknya kembali saja ke rumahnya. Namun gadis pemberani ini tidak mundur, Ia membeli persedian yang dapat ia bawa. Malamnya ia pergi menuju pantai tersebut. Ia memilih perahu paling ringan yang dapat ia temukan, mendorongnya dengan kesusahan ke dalam air, dan mendayungnya dengan susah payah menggunakan tangannya yang kecil itu. Beruntung hempasan angin yang kuat, membantunya menuju kesana. Malam berikutnya, dengan keadaan setengah mati, ia pun berhasil dalam upayanya. Perahunya pun sampai ke daratan.

Tokoyo pun menemukan tempat untuk berteduh, ia pun berbaring dan tidur disana. Paginya ia terbangun dan merasa begitu segar kembali. Ia memakan makanan sisa yang ia persiapkan dan memulai untuk menanyakan tentang keberadaan ayahnya. Orang pertama yang ia temui adalah seorang nelayan. “Tidak” , kata nelayan tersebut, “Aku tidak pernah mendengar tentang ayahmu, dan jika kamu menerima nasihatku kau tidak akan bertanya tentangnya jika ia telah dibuang, karena itu akan membawamu dalam masalah dan dia akan mati!”

Tokoyo yang malang mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, mencuri dengar dengan berhati hati, tapi ia tidak pernah mendengar takan satu kata tentang ayahnya.

Suatu malam ia datang ke sebuah sebuah tanjung kecil batuan, dan disana berdiri sebuah kuil. Ia pun membungkuk pada Buddha dan memohon bantuannya untuk menemukan ayah Tokoyo tercinta. Ia lalu berbaring, berniat untuk melewati malam disana. Tempat tersebut begitu damai, terlindungi dari angin.

Tokoyo tertidur selama satu jam sampai ia mendengar bunyi ombak menghempas karang, suarayang aneh, dan tangisan pahit seorang gadis. Ia melihatnya di bawah cahaya bulan, gadis yang cantik berusia sekitar lima belas tahun, menangis begitu pahit. Di sampingnya berdiri seorang pria yang yang terlihat seperti penjaga kuil atau pendeta. Ia menepuk tangannya dan berkomat kamit “Namu Amida Butsu”. Keduanya erpakaian serba putih. Saat pendeta tersebut selesai berdoa, pendeta tersebut menuntun gadis tersebut sampai ke tepi batu. Dan bermaksud untuk mendorongnya ke dalan lautan. Tokoyo pun menyelamatkannya, dengan cepet merebut lengan gadis itu tepat pada waktunya untuk menyelamatkannya. Pendeta tua tersebut pun terkejut, namun ia tidak marah dan menjelaskan:

“Terlihat dari campur tanganmu bahwa kau adalah orang luar dari pulau kecil ini. Jika tidak, kau akan tahu bahwa urusan tidak menyenangkanmu ini sama sekali tidak sesuai dengan keinginan saya dan keinginan yang lain. Sayangnya, kita dikutuk oleh dewa jahat pulau ini, yang kita sebut Yofune Nushi. Ia tinggal di dasar laut, setiap tahun ia menuntut seorang gadis dibawah lima belas tahun. Persembahan pengorbanan ini harus dilaksanakan pada tanggal 13 Juni hari anjing antara jam delapan sampai jam sembilan. Jika mengabaikannya, Yofune Nushi akan marah dan menyebabkan badai yang sangat besar, yang menenggelamkan banyak dari Nelayan kita. Dengan mengorbankan seorang gadis banyak yang dapat diselamatkan. Selama tujuh tahun terakhir saya telah menjalani tugas sedih ini untuk memimpin ritual. Dan sekarang kau telah mengganggu”

Tokoyo pun mendengarkan penjelasan dari sang pendeta dan berkata: “Pendeta, jika benar apa yang engkau katakan, maka tampaknya kesedihan ada dimana-mana. Biarkan gadis itu pergi, dan katakan padanya untuk berhenti menangis. Aku lebih menyedihkan daripada dia, dan aku akan menggantikan tempatnya dan menawarkan diri untuk Yofune Nushi. Aku adalah putri menyedihkan Oribe Shimam seorang samurai kelas atas yang diasingkan di pulau ini. Dalam pencarian ayahku tercinta aku telah sampai disini. Namun ayahku dijaga ketat dan aku tidak bisa menemukan dia. Ataupun mengetahui dimana keberadaannya. Hatiku telah rusak, dan aku tidak menginginkan apapun lagi dalam hidup ini, dan saya akan senang jika bisa menyelatkan gadis tersebut. Ambilah surat saya ini, yang ditujukan untuk ayah saya. Dan engkau harus mengirimkan ini kepada ayahku sesuai yang aku minta.”

Tokoyo mengambil jubah putih dari gadis muda dan memakaikan pada dirinya sendiri. Dia kemudian berlutut di depan sosok Buddha, dan berdoa untuk kekuatan dan keberanian untuk membunuh dewa jahat, Yofuné-Nushi. Lalu ia menarik belati kecil dan indah, yang milik salah satu nenek moyang, dan, menempatkannya diantara giginya, ia menyelam ke laut menderu dan menghilang, pendeta dan gadis lain yang mencari setelah dia dengan heran dan kekaguman, dan gadis dengan rasa syukur.

Tokoyo berenang ke dasar laut melewati air yang jernih, yang disinari oleh cahaya bulan. Ia pun terus menyelam, melewati ikan ikan, sampai ia mencapai dasar laut, dan disana ia menemukan sebuah gua. Ia melihat seseorang pria di dalam gua. Tidak takut akan apapun, berniat untuk bertarung dan mati, ia mendekat, memegang belati kecilnya bersiap untuk menyerang. Tokoyo mengira ia adalah Yofune Nushi, dewa jahat yang pendeta itu bicarakan sebelumnya. Namun, Tokoyo melihat bahwa itu bukanlah dewa, tapi hanya sebuah patung kayu Hojo Takatoki, orang yang telah membuang ayahnya.

Awalnya ia marah dan melampiaskan dendamnya kepada patung itu. Tapi, apa gunanya semua itu? Lebih baik melakukan hal baik daripada hal jahat. Ia akan menyelamatkan patung itu. Barangkali itu dibuat oleh orang yang, seperti ayahnya, telah menderita di tangan Hojo Takatoki. Ia pun membawanya ke luar gua. Benar, patung itu berat, tapi benda-benda lebih ringan di dalam air daripada di darat. Dan Tokoyo tidak takut akan masalah membawa patung tersebut ke permukaan. Ia mengikat patin itu di pungguhnya. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Ia melihat, datang perlahan lahan dari kedalaman gua tersebut. Sebuah mahluk yang mengerikan. Mahluk berbentuk seperti ular, tapi dengan kaki kaki dan sisik kecil di belakang dan sisinya. Mahluk itu sekitar dua puluh enam sampai delapan shaku (sekitar dua puluh enam kaki) panjangnya. Matanya berapi api.

Tokoyo memegang belati kecilnya dengan merubah keputusannya, merasa yakin bahwa itu adalah dewa jahat, Yofune Nushi yang menuntut pengorbanan seorang gadis tiap tahun. Tidak ragu bahwa Yofune Nushi mengira bahwa gadis itu adalah haknya. Tokoyo pun akan buktikan siapa dia, dan membunuhnya jika ia bisa, dan selamat dari keharusan dari pengorbanan gadis di pulau menyedihkan ini.

Perlahan mahluk itu dating, dan Tokoyo mempersiapkan dirinya untuk bertarung. Saat mahluk itu berada enam kaki di depannya, Tokoyo bergerak ke sisi lain dan menikam mata kanannya. Ini begitu mengacaukan dewa jahat, ia berbalik dan mencoba memasuki gua kembali. Tapi Tokoyo terlalu pintar untuknya. Buta karena kehilangan mata kanannya, dan juga darah yang membanjiri mata kirinya, mahluk itu lambat dalam gerakannya, dan kemudian Tokoyo yang berani dan cerdas dapat berbuat apapun yang dia suka kepada mahluk tersebut. Ia mendapatkan sisi kiri mahluk tersebut, dimana ia bias menikam jantungnya. Dan Yofune Nushi pun jatuh di tangan Tokoyo.

Tokoyo senang akan keberhasilannya. Ia merasa bahwa ia harus membawa  Yofune Nushi dan patung kayu tersebut ke permukaan, yang setelah beberapa kali berusaha, ia menyadari kalau ia sudah berada di dalam laut sekitar setengah jam.

Sementara itu pendeta dan gadis kecil tersebut melanjutkan untuk menatap ke dalam laut dimana Tokoyo menghilang,  mengagumi keberaniannya, pendeta berdoa untuk jiwanya, dan sang gadis berterima kasih kepada dewa. Mendadak mereka menyadari ada sebuah badan muncul dari permukaan dengan yang janggal. Lalu gadis kecil pun menangis, “Kenapa, bapa kudus, ini adalah gadis yang menggantikan tempat dan menyelam ke dalam lautan! Aku menyadari baju putihku. Tapi sepertinya dia membawa seorang pria dan ikan besar bersamanya”

Pendeta pun menyadari bahwa itu adalah Tokoyo yang dating ke permukaan, dan ia menolongnya sebisa yang dia mampu. Ia melompati bebatuan, dan membawanya dengan keadaan setengah sadar dari tepi laut.

Bantuan pun segera dating, dan semua dengan hati hati membawanya ke sebuah tempat aman di desa. Pendeta pun melaporkan kejadian itu kepada Tameyoshi, orang yang memerintah pulau itu pada waktu itu. Dan ia pun melaporkan kejadian kepada Raja Hojo Takatoki, yang memerintah seluruh Provinsi Hoki, yang termasuk kepulauan Oki.

Takatoki sedang menderita sebuah penyakit yang tidak diketahui obatnya. Penyembuhan patung kayu yang menyerupai dia membuat jelas semuanya, bahwa ia dikutuk oleh seseorang yang telah tersinggung olehnya. Seseorang yang memahat rupanya, mengutuknya, dan menenggelamkannya ke dalam laut. Sekarang patung itu sudah dibawa ke permukaan, ia merasa kutukan itu telah berakhir, dan ia akan merasa baikan. Mendengar cerita tentang ‘anak perempuan dari musuh lamanya Oribe Shime’, yang sedang dikurung dalam penjara, ia memerintahkan untuk melepaskan Oribe Shime segera.

Kutukan di patung Hojo Takatoki telah dibawa dengan dewa jahat, Yofune Nushi, yang menuntut gadis sebagai kontribusi. Yofuni Nushi sekarang telah mati, dan para penduduk pulau pun tidak takut lagi akan masalah badai. Oribe Shima dan anak perempuannya yang berani kembali ke rumahnya di Provinsi Shima.

Di pulau Kamijima di kepulauan Oki pun damai sejahtera. Tidak ada lagi gadis yang ditawarkan tanggal 13 Juni kepada dewa jahat, Yofune Nushi, yang tubuhnya dikubur di atas kuil tersebut. Kuil kecil lainnya dibangun untuk mengingat peristiwa ini. Yang disebut Makam Ular Laut.

Patung kayu Hojo Takatoki, setelah begitu banyak mengembara, akhirnya menemukan tempat peristirahatan di Honsoji, Kamakura.

TAMAT

Ini sebenarnya  adalah terjemahan Indonesia dari artikel ini. Diterjemahkan oleh Hikari Senpai. Untuk kekurangannya saya mohon maaf yang sebesar besarnya. Dan terima kasih telah mengunjungi blog ini. ^^

Hikari Senpai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s